Tampilkan postingan dengan label fakultas farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fakultas farmasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Profesi Apoteker

Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Profesi Apoteker

Mulai semester genap TA 2011/2012 Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang mulai menerima mahasiswa baru angkatan pertama untuk Program Studi Profesi Apoteker
Masa pendaftaran dilakukan pada Februari - Maret 2012.  Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan datang lansung ke Sekretariat PSPA Farmasi Unwahas di Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan Semarang pada jam kerja (08.00 - 15.00).

Sumber : Fakultas Farmasi Unwahas

Brosur Penerimaan Mahasiswa Baru Apoteker Angkatan V
Tampak Depan

Tampak Belakang

Tampak Depan
























Brosur tampak belakang

Minggu, 18 Maret 2012

Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Tahun 2012

Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim
Status Akreditasi BAN-PT : Terakreditasi B (Tahun 2009)

Brosur Tampak Depan

Brosur Tampak Belakang

Uang Pendaftaran :
Rp. 150.000

Masa Pendaftaran

Gelombang I
Masa Pendaftaran                               :  Januari – 30 Juni 2012
Ujian Seleksi                                       :  Senin, 2 Juli 2012
Pengumuman Hasil Ujian Seleksi         :  2 Juli 2012
Masa Registrasi Mahasiswa                :  3 – 31 Juli 2012

Gelombang II
Masa Pendaftaran                               :  2 Juli – 4 Agustus 2012
Ujian Seleksi                                       :  Senin 6 Agustus 2012
Pengumuman Hasil Ujian Seleksi         :  6 Agustus 2012
Masa Registrasi Mahasiswa                :  7 Agustus – 31 Agustus 2012

Gelombang III
Masa Pendaftaran                               :  6 Agustus – 15 September 2012
Ujian Seleksi                                       :  Senin 17 September 2012
Pengumuman Hasil Ujian Seleksi         :  17 September 2012
Masa Registrasi Mahasiswa                :  18 – 30 September 2012

Kouta Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2012
Gelombang
Kouta Kelas
Pagi
Sore
I
80
Tidak ada kouta
II
20
Tidak ada kuota
III
20
Tidak ada kuota


Materi Ujian Seleksi
·         Matematika
·         Bahasa Ingris
·         Biologi
·         Kimia


Biaya Perkuliahan
No
Program Studi
PKM
SPP
SKS
Praktikum*
SPI (Gel)
Dana Opreasional
I
II
II
1
Farmasi
350.000
700.000
60.000
700.000
10.000.000
11.000.000
12.000.000
-
2
Farmasi (Kelas Sore)
350.000
800.000
70.000
700.000
10.000.000
11.000.000
12.000.000
600.000

*Dibayarkan per semester

Keterangan :
·         PKM = Penunjang Kegiatan Mahasiswa
·         SPI = Sumbangan Pengembangan Institusi
·   Jika mengundurkan diri, biaya yang telah dibayarkan dikembalikan sebesar 50%.  Batas pengunduran diri adalah 1 (satu) minggu setelah registrasi

Senin, 20 Februari 2012

Alergi dan Penyakit Karena Alergi

Alergi dan Penyakit karena Alergi

Yance Anas, M.Sc., Apt
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim

Alergi merupakan reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme immunologi spesifik.Semenjak tahun 1918, angka kejadian penyakit karena alergi terus meningkat, terutama di negara-negara industri maju.  Saat ini, angka kejadian alergi di seluruh dunia mencapai 30%, dimana alergi dapat terjadi pada semua rentang usia dan pada berbagai organ (Johansson, 2009).  Manifestasi penyakit karena alergi yang paling berbahaya adalah reaksi anafilaksis, sebuah sindrom sistem kardiovaskuler yang berpotensi menimbulkan keadaan gawat darurat pada anak-anak dan orang dewasa (Tringgani, et.al., 2008). 

Reaksi anafilaksis diawali oleh adanya interaksi antara alergen dan IgE yang kemudian akan terikat kuat pada reseptor spesiik IgE (FcεRI) pada permukaan membran sel mast dan basofil di berbagai jaringan. FcεRI merupakan reseptor terikat protein G yang terdistribusi luas pada permukaan membran sel mast dan basofil.  Signal transduksi yang terjadi pertama kali setelah FcεRI diaktivasi adalah terjadinya fosforilasi phospholipase Cγ (PLCγ).  PLCγ kemudian akan menghidrolisis phosphatydilinositol-4,5-bisphosphate (PIPP) yang menghasilkan inositol triphosphate (IP3) dan diacylglyserol (DAG).  IP3akan memediasi pelepasan Ca2+ intraseluler dari calcium-store, sedangkan DAG akan mengaktifkan protein kinase C (PKC).  Ion kalsium intraseluler dan PKC dilaporkan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses degranulasi sel mast (Hamawi, et.al., 2005). Pelepasan mediator dari sel mast dan basofil biasanya terjadi dalam hitungan menit.  Histamin, triptase, karboksipetidase A, sistenil leukotrin C4, prostaglandin D2 dan platelet activating factor (PAF) dilepaskan dengan sangat cepat dari sel mast dan basofil yang bisa diaktifkan secara imunologik dan non-immunologik (Tringgani, et.al., 2008).Mediator-mediator ini akan memicu berbagai gejala alergi seperti pruritus, kemerahan, hilangnya kesadaran yang bersifat sementara, gangguan saluran pencernaan, mual, muntah, diare, nyeri tulang dan gangguan mental yang diakibatkan oleh gangguan fungsi otak
(Escribano,et al., 2006).
Gejala alergi sangat beragam dan tergantung dari sensitivitas pasien dan organ yang menjadi target dari reaksi alergi.  Umumnya, gejala berupa gangguan saluran pencernaan (nyeri abdomen, kembung, muntah, diare), atau gejala alergi yang terlihat pada kulit (gatal, urtikaria, bengkak dan kemerahan).Rasa gatal pada tenggorokan dan telinga merupakan manifestasi yang sering terjadi akibat alergi.Gejala lainnya berupa yang jarang terjadi adalah gangguan saluran pernafasan (asma alergi), dan biasanya berhubungan dengan rinitis alergi (Ruznak dan Davies, 1998).
Berbagai penyakit yang sering berhubungan dengan reaksi alergi diantaranya adalah asma, rinitis, conjunctivitis, dermatitis, urtikaria, hipersensitivitas obat dan makanan.Asma merupakan gangguan saluran pernafasan yang ditandai dengan terjadinya penyempitan saluran nafas.Salah satu penyebab asma adalah karena reaksi alergi (disebut juga dengan asma alergi), dimana IgE terlibat pada respon awal proses penyempitan saluran pernafasan.Beberapa penelitian melaporkan bahwa 8 % penderita asma anak-anak dan lebih dari 50 % penderita asma dewasa disebabkan karena reaksi alergi (Johansson, 2009).Rinitisalergi juga sering terjadi pada penderita asma dengan angka kejadian hampir 100% (Thomas, 2006), dimana keadaan ini sering menyulitkan pengobatan.Rinitis alergi pada pasien asma harus dideteksi sedini mungkin dan mendapatkan penanganan dalam terapi (Magnan,et al., 2008).

Berbagai laporan penelitian menyimpulkan terjadinya perubahan struktural pada saluran pernafasan penderita asma, diantaranya terjadi perubahan dalam tingkat kerapuhan sel epitel, hiperplasia sel goblet, pembesaran kelenjar mukus mukosa, angiogenesis, peningkatan deposisi matriks pada dinding saluran pernafasan, peningkatan jumlah sel otot polos saluran pernafasan, penebalan dinding, dan abnormalitas elastin.  Perubahan struktural dapat meningkatkan intensitas penyempitan saluran pernafasan karena terjadinya perubahan pada dinamika sel otot polos dalam jangka waktu yang lama, sehingga akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan relaksasi otot polos saluran pernafasan
(Bai dan Knight, 2005).  Abnormalitas otot polos saluran pernafasan merupakan mekanisme patologi utama yang terjadi pada pasien asma.Abnormalitas yang terjadi dapat berupa perubahan pada jumlah sel, ukuran, fenotip, atau fungsi sel otot polos (Woodruff, 2008).  Artikel selengkapnya silahkan di DOWNLOAD  ya bro.........

DAFTAR PUSTAKA
Bai, T.R. and Knight, D.A., 2005, Structural Changes in the Airways in Asma: Observations and Consequences, Clin. Sci., 108(6) : 463-477
Currie, G.P., Lee, D.K.C. and Srivastava, P., 2005, Long-acting Bronchodilator or Leukotriene Modifier as Add-on Therapy to Inhaled Corticosteroids in Persistent Asthma?, Chest, 128(4) : 2954-2962
Escribano, L., Akin, C., Castells, M. and Schwartz, L.B., 2006, Current Options in the Treatment of Mast Cell Mediator-related Symptoms in Mastocytosis, Inflamm Allergy Drug Targets, 5(1) : 61-77
Hendeles, L., Marshik, P.L., Ahrens, R., Kifle, Y. and Shuster, J., 2005, Response to Nonprescription Epinephrine Inhaler During Nocturnal asthma, Ann. Allergy Asma Immunol, 95(6) : 530-534
Huchon, G., Magnussen, H., Chuchalin, A., Dymek, L., Gonod, F.B. and Bousquet, J., 2009, Lung Function and Asthma Kontrol with Beclomethasone and Formoterol in a Single Inhaler, Respir Med, 103(1) : 41-49
Johansson, S.G.O, 2009, New Nomenclature and Clinical Aspects of Allergic Diseases, in Pawankar, R., Holgate, S.T. and Rosenwasser, R.J., Allergy Frontiers : Classification and Pathomechanisms, Vol. 2, Springer, Japan.
Johnson, M., 2006, Molecular Mechanisms of Beta(2)-adrenergic Receptor Function, Response, and Regulation, J. Allergy Clin. Immunol, 117(1) : 18-24
Kanazawa, H., 2006, Anticholinergic Agents in Asthma: Chronic Bronchodilator Therapy, Relief of Acute Severe Asthma, Reduction of Chronic Viral Inflammation and Prevention of Airway Remodeling, Curr Opin Pulm Med, 12(1) : 60-67

Magnan, A., Meunier, J.P., Saugnac, C., Gasteau, J. and Neukirch, F., 2008, Frequency and Impact of Alergic Rinitis in Asthma Patients in Everyday General Medical Practice: a French Observational Cross-sectional Study, Allergy, 63(3) : 292-298
Miyatake, A., Fujita, M., Nagasaka, Y., Fujita, K., Tamari, M., Watanabe, D., Nakano, N., Hidari, K.I.P.J. and Suzuki, Y., 2007, The New Role of Disodium Cromoglycate in the Treatment of Adults with Bronchial Asthma, Allergol Int, 56(3) : 231-239
Rusznak, C and Davies, R.J., 1998, ABC of Allergies : Diagnosing Allergy, BMJ, 316 : 686-689  
Simons, F.E., 1999, Is Antihistamine (H1-receptor Antagonist) Therapy Useful in Clinical Asthma?, Clin. Exp. Allergy, 29(3) : 98-104
Tanaka, K., 1996, The Clinical Application of Long-acting Preparations of Theophylline, Nippon Rinsho, 54(11) : 3108-3112
Thomas, M., 2006, Alergic Rinitis: Evidence for Impact on Asthma, BMC Pulm Med, 6(10) : 1-4
Woodruff, P.G., 2008, Gene Expression in Asthmatic Airway Smooth Muscle, Proc Am Thorac Soc, 5(1) : 113-118

Potensi Alergi Senyawa Turunan Kumarin


Potensi Antialergi Senyawa Turunan Kumarin

Yance Anas, M.Sc., Apt.
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim


Kumarin adalah senyawa alam yang dikelompokkan pada senyawa benzopiron, semua senyawa turunan kumarin memiliki cincin benzen yang bergabung dengan inti piron (Al-Bayati, et.al., 2010). Kumarin pertamakali diisolasi pada tahun 1820.Senyawa aktif golongan kumarin banyak terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, terutama pada suku Rutaceae dan Umbelliferae.Sebagian senyawa turunan kumarin dalam tumbuhan, ditemukan dalam bentuk terikat dengan gula sebagai senyawa glikosida (Lucy dan Kennedy, 2004).

Profil Farmakologi Senyawa Turunan Kumarin

Senyawa turunan kumarin telah diketahui memiliki berbagai macam aktifitas biologis, diantaranya adalah sebagai antikoagulan, senyawa estrogenik, memicu reaksi fotosensitif pada kulit, antimikroba, vasodilator, anthelmintik, analgetik,menurunkan suhu tubuh (Al-Bayati, et.al., 2010), antiinflamasi, relaksan otot polos dan antikolesterol
(Hoult dan Payá, 1996)
Senyawa turunan kumarin yang terdapat pada bahan alam, seperti esculetin, fraxetin, daphnetin dan senyawa turunan kumarin lainnya tidak hanya dikenal sebagai penghambat aktivitas enzim lipooksigenase dan siklooksigenase, akan tetapi juga mempunyai kemampuan dalam menghambat pelepasan senyawa anion superoksida dari neutrofil.  Senyawa 7-hidroksi kumarin juga telah dilaporkan mampu menghambat biosintesis prostaglandin yang melibatkan intermediet hidroperoksi asam lemak(Fylaktakidou, et.al., 2004).

Penelitian terdahulu melaporkan bahwa kumarin dan metabolitnya 7-hidroksi kumarin, menunjukkan aktifitas antitumor terhadap berbagai kutur sel kanker manusia secara in vitro, sehingga dapat dikembangkan sebagai senyawa antikanker.Pada beberapa sel kanker, berbagai senyawa turunan kumarin merupakan penghambat proliferasi sel yang cukup poten.Senyawa 7-hidroksi kumarin mampu menghambat pelepasan cyclin D1 yang banyak terekspresi pada berbagai jenis sel kanker.Senyawa 4-hidroksi kumarin dan 7-hidroksi kumarin juga telah diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat proliferasi kultur sel kanker lambung secara in vitro (Lucy dan Kennedy, 2004).  Coumestrol merupakan senyawa turunan kumarin yangmemiliki  strukturmolekul yang mirip dengan hormon estrogen (disebut sebagai fitoestrogen).  Coumestrol menunjukkan potensi yang signifikan sebagai “antihormonal kanker” seperti kanker panyudara pada wanita dan kanker prostat pada pria (Huang, et.al., 2007).
Senyawa turunan kumarin kelompok dihidropiranokumarin (4′′-hidroksitigloilkursinol, 4′′-hidroksidekursin, (2′′S,3′′S)-epoksiangeloildekursinol dan (2′′R,3′′R)-epoksiangeloildekursinol) yang diisolasi dari akar Angelica gigas dilaporkan memiliki potensi sebagai agen neuroprotektif,  sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai senyawa bahan alam yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit neurogeneratif seperti parkinson, alzheimer, epilepsy dan stroke isekemik.  Perlakuan keempat senyawa turunan kumarin tersebut (dengan rentang konsentrasi  0,1 – 10 μM) menunjukkan efek perlindungan terhadap neurotoksisitas yang diinduksi L-glutamat pada kultur sel cortical tikus (Kang, et.al., 2005).

Potensi Senyawa turunan Kumarin sebagai Anti-Alergi
Berbagai penelitian terdahulu juga menyimpulkan bahwa senyawa turunan kumarin memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai antialergi.  Hasil uji klinik menyimpulkan pemberian senyawa turunan kumarin BM 15.100 (3,4-dimetil-7-[4-(p-klorobenzil)-piperazin - 1 - il] - propoksikumarin.dihidroklorida) dosis tunggal 20 mg mampu melindungi penyumbatan bronkus pada manusia,60 menit setelah paparan allergen (Gonsior, et.al., 1979).  Senyawa ini mampu menghambat pelepasan histamin yang diinduksi oleh antigen pada sel leukosit manusia.  Efek lain dari senyawa ini adalah kemampuannya dalam menghambat re-uptake histamin oleh sel leukosit manusia terisolasi.  Efek tersebut berlangsung dengan pola tergantung dosis (Assem dan Chong, 1976)..........
Artikel selengkapnya silahkan DOWNLOAD (PDF) ....


Daftar Pustaka
Al-Bayati, R.I., Al-Amiery, A. A.H. and Al-Majedy, Y.K., 2010, Design, Synthesis and Bioassay of Novel Coumarins, Afr. J. Pure Appl. Chem.4(6) : 74-86
Assem, E.S. and Chong, E.K., 1976, Profiles of Different Anti-allergy Effects of a New Histamine Antagonist, BM 15,100, Br. J. Pharmacol, 57(3) : 437-438
Fylaktakidou, K.C., Hadjipavlou-Litina, D.J., Litinas, K.E. and Nicolaides, D.N., 2004, Natural and Synthetic Coumarin Derivatives with Anti-inflammatory/ Antioxidant Activities, Curr. Pharm, 10(30) : 3813-3833

Hoult, J.R. and Payá, M., 1996, Pharmacological and Biochemical Actions of Simple Coumarins: Natural Products with Therapeutic Potential, Gen. Pharmacol, 27(4) : 713-722
Huang, C.M., Wang, H.C., Huang, W.H. and Lee, A.R., 2007, A New 6-Substituted Coumarin Derivative, Taiwan Pharm. J.59(3) : 153-155
Kang, S.Y., Lee, K.Y., Sung, S.H. and Kim, Y.C., 2005, Four New Neuroprotective Dihydropyranocoumarins from Angelica gigas,J. Nat. Prod. 68 : 56-59
Lucy, A., and Kennedy, R.O., 2004, Studies  on  Coumarins  and  Coumarin-Related  Compounds  to  Determine their Therapeutic Role in the Treatment of Cancer, Curr Pharml Des, 10(30) : 3797-3811
Ragazzi, E., Froldi, G. and Fassina, G., 1989, Effects of Esculetin (6,7-dihydroxycoumarin) on Guinea-pig Tracheal Chains in Vitro, Pharmacol. Res, 21(2) : 183-192
Ryu, S.Y., Kou, N.Y., Choi, H.S., Ryu, H., Kim, T.S. and Kim, K.M., 2001, Cnidicin, a Coumarin, from the Root of Angelica koreana, Inhibits the Degranulation of Mast Cell and the NO Generation in RAW 264.7 Cells, Planta Med, 67(2) : 172-174
Watanabe, J., Shinmoto, H. and Tsushida, T., 2005, Coumarin and Flavone Derivatives from Estragon and Thyme as Inhibitors of Chemical Mediator Release from RBL-2H3 Cells, Biosci. Biotechnol. Biochem, 69(1) : 1-6

Potensi Alergi Senyawa Turunan Kumarin


Potensi Antialergi Senyawa Turunan Kumarin

Yance Anas, M.Sc., Apt.
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim


Kumarin adalah senyawa alam yang dikelompokkan pada senyawa benzopiron, semua senyawa turunan kumarin memiliki cincin benzen yang bergabung dengan inti piron (Al-Bayati, et.al., 2010). Kumarin pertamakali diisolasi pada tahun 1820.Senyawa aktif golongan kumarin banyak terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, terutama pada suku Rutaceae dan Umbelliferae.Sebagian senyawa turunan kumarin dalam tumbuhan, ditemukan dalam bentuk terikat dengan gula sebagai senyawa glikosida (Lucy dan Kennedy, 2004).

Profil Farmakologi Senyawa Turunan Kumarin
Senyawa turunan kumarin telah diketahui memiliki berbagai macam aktifitas biologis, diantaranya adalah sebagai antikoagulan, senyawa estrogenik, memicu reaksi fotosensitif pada kulit, antimikroba, vasodilator, anthelmintik, analgetik,menurunkan suhu tubuh (Al-Bayati, et.al., 2010), antiinflamasi, relaksan otot polos dan antikolesterol (Hoult dan Payá, 1996)
Senyawa turunan kumarin yang terdapat pada bahan alam, seperti esculetin, fraxetin, daphnetin dan senyawa turunan kumarin lainnya tidak hanya dikenal sebagai penghambat aktivitas enzim lipooksigenase dan siklooksigenase, akan tetapi juga mempunyai kemampuan dalam menghambat pelepasan senyawa anion superoksida dari neutrofil.  Senyawa 7-hidroksi kumarin juga telah dilaporkan mampu menghambat biosintesis prostaglandin yang melibatkan intermediet hidroperoksi asam lemak(Fylaktakidou, et.al., 2004).
Penelitian terdahulu melaporkan bahwa kumarin dan metabolitnya 7-hidroksi kumarin, menunjukkan aktifitas antitumor terhadap berbagai kutur sel kanker manusia secara in vitro, sehingga dapat dikembangkan sebagai senyawa antikanker.Pada beberapa sel kanker, berbagai senyawa turunan kumarin merupakan penghambat proliferasi sel yang cukup poten.Senyawa 7-hidroksi kumarin mampu menghambat pelepasan cyclin D1 yang banyak terekspresi pada berbagai jenis sel kanker.Senyawa 4-hidroksi kumarin dan 7-hidroksi kumarin juga telah diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat proliferasi kultur sel kanker lambung secara in vitro (Lucy dan Kennedy, 2004).  Coumestrol merupakan senyawa turunan kumarin yangmemiliki  strukturmolekul yang mirip dengan hormon estrogen (disebut sebagai fitoestrogen).  Coumestrol menunjukkan potensi yang signifikan sebagai “antihormonal kanker” seperti kanker panyudara pada wanita dan kanker prostat pada pria (Huang, et.al., 2007).
Senyawa turunan kumarin kelompok dihidropiranokumarin (4′′-hidroksitigloilkursinol, 4′′-hidroksidekursin, (2′′S,3′′S)-epoksiangeloildekursinol dan (2′′R,3′′R)-epoksiangeloildekursinol) yang diisolasi dari akar Angelica gigas dilaporkan memiliki potensi sebagai agen neuroprotektif,  sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai senyawa bahan alam yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit neurogeneratif seperti parkinson, alzheimer, epilepsy dan stroke isekemik.  Perlakuan keempat senyawa turunan kumarin tersebut (dengan rentang konsentrasi  0,1 – 10 μM) menunjukkan efek perlindungan terhadap neurotoksisitas yang diinduksi L-glutamat pada kultur sel cortical tikus (Kang, et.al., 2005).

Potensi Senyawa turunan Kumarin sebagai Anti-Alergi
Berbagai penelitian terdahulu juga menyimpulkan bahwa senyawa turunan kumarin memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai antialergi.  Hasil uji klinik menyimpulkan pemberian senyawa turunan kumarin BM 15.100 (3,4-dimetil-7-[4-(p-klorobenzil)-piperazin - 1 - il] - propoksikumarin.dihidroklorida) dosis tunggal 20 mg mampu melindungi penyumbatan bronkus pada manusia,60 menit setelah paparan allergen (Gonsior, et.al., 1979).  Senyawa ini mampu menghambat pelepasan histamin yang diinduksi oleh antigen pada sel leukosit manusia.  Efek lain dari senyawa ini adalah kemampuannya dalam menghambat re-uptake histamin oleh sel leukosit manusia terisolasi.  Efek tersebut berlangsung dengan pola tergantung dosis (Assem dan Chong, 1976)..........
Artikel selengkapnya silahkan DOWNLOAD (PDF) ....


Daftar Pustaka
Al-Bayati, R.I., Al-Amiery, A. A.H. and Al-Majedy, Y.K., 2010, Design, Synthesis and Bioassay of Novel Coumarins, Afr. J. Pure Appl. Chem.4(6) : 74-86
Assem, E.S. and Chong, E.K., 1976, Profiles of Different Anti-allergy Effects of a New Histamine Antagonist, BM 15,100, Br. J. Pharmacol, 57(3) : 437-438
Fylaktakidou, K.C., Hadjipavlou-Litina, D.J., Litinas, K.E. and Nicolaides, D.N., 2004, Natural and Synthetic Coumarin Derivatives with Anti-inflammatory/ Antioxidant Activities, Curr. Pharm, 10(30) : 3813-3833
Hoult, J.R. and Payá, M., 1996, Pharmacological and Biochemical Actions of Simple Coumarins: Natural Products with Therapeutic Potential, Gen. Pharmacol, 27(4) : 713-722
Huang, C.M., Wang, H.C., Huang, W.H. and Lee, A.R., 2007, A New 6-Substituted Coumarin Derivative, Taiwan Pharm. J.59(3) : 153-155
Kang, S.Y., Lee, K.Y., Sung, S.H. and Kim, Y.C., 2005, Four New Neuroprotective Dihydropyranocoumarins from Angelica gigas,J. Nat. Prod. 68 : 56-59
Lucy, A., and Kennedy, R.O., 2004, Studies  on  Coumarins  and  Coumarin-Related  Compounds  to  Determine their Therapeutic Role in the Treatment of Cancer, Curr Pharml Des, 10(30) : 3797-3811
Ragazzi, E., Froldi, G. and Fassina, G., 1989, Effects of Esculetin (6,7-dihydroxycoumarin) on Guinea-pig Tracheal Chains in Vitro, Pharmacol. Res, 21(2) : 183-192
Ryu, S.Y., Kou, N.Y., Choi, H.S., Ryu, H., Kim, T.S. and Kim, K.M., 2001, Cnidicin, a Coumarin, from the Root of Angelica koreana, Inhibits the Degranulation of Mast Cell and the NO Generation in RAW 264.7 Cells, Planta Med, 67(2) : 172-174
Watanabe, J., Shinmoto, H. and Tsushida, T., 2005, Coumarin and Flavone Derivatives from Estragon and Thyme as Inhibitors of Chemical Mediator Release from RBL-2H3 Cells, Biosci. Biotechnol. Biochem, 69(1) : 1-

Marmin

Marmin 

Yance Anas, M.Sc., Apt.
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang


Marmin (7-(6’,7’-dihidroksigeranil-oksi) kumarin) merupakan salah satu senyawa aktif turunan kumarin yang banyak terkandung pada kulit batang dan kortek akar Aegle marmelos Correa. Marmin dapat diisolasi dari ekstrak kloroform dan ekstrak metanol kulit batang Aegle marmelos Correa.Selain itu, marmin juga ditemukan pada saat skrining senyawa aktif dalam ekstrak proteleum eter, ekstrak kloroform, fraksi etil asetat dan fraksi n-butanol ekstrak metanol kortek akar Aegle marmelos Correa (Riyanto, 2003).

Proses isolasi marmin dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom vakum terhadap berbagai ekstrak kulit batang dan kortek akar Aegle marmelos Correa, sehingga diperoleh berbagai fraksi yang mengandung marmin.  Berbagai fraksi tersebut diuapkan dan direkristalisasi.   Marmin yang diisolasi dari kulit batang dan kortek akar Aegle marmelos Correa (gambar 2) merupakan kristal tidak berwarna berbentuk prisma, dengan titik lebur 126 – 128 °C.  Penentuan struktur kimia marmin tersebut dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap data spektum spekroskopi UV, IR, Massa, 1H-NMR, 13C-NMR dan spektroskopi Resonansi Magnet Inti (RMI) 2 dimensi (1H-1H-COSY, HMQC dan HMBC).  Struktur kimia marmin dielusidasi sebagai (+)-7-[(6,7-dihidroksi-3,7-dimetil-2-oktonil)-oksi] kumarin atau (+) marmin (Riyanto, 2003).  Berdasarkan  struktur kimia, marmin merupakan senyawa turunan kumarin dengan subsitusi gugus oksi 6’.7’dihidroksi geranil pada atom C nomor 7 kerangka kumarin.  Pada berbagai penelitian sebelumnya, marmin juga terdapat pada beberapa tanaman obat lainnya, yaitu pada Citrus hasaku dan Aurantii Fructus Immaturus
(Yamada, et.al., 1987; Takase, et.al., 1994).
gambar struktur kimia marmin
Berbagai skrining uji aktivitas farmakologi marmin telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.Isolat marmin, salah satu senyawa turunan kumarin yang diisolasi dari jus oil Hassaku (Citrus hasaku) memiliki aktivitas spasmolitik pada usus halus marmut jantan terisolasi, dengan persentase efek penghambatan kontraksi sebesar 58 % (Yamada, et.al., 1987).  Pemberian marmin yang diisolasi dari Aurantii Fructus Immaturus secara oral dosis 10 – 50 mg/KgBB mampu menghambat luka pendarahan pada lambung tikus yang diinduksi dengan etanol dengan pola tergantung dosis (ED50 sebesar 17,2 mg/KgBB).  Marmin dosis 25 mg/KgBB yang diberikan secara intragastrik secara signifikan mampu menghambat motilitas lambung.Senyawa marmin tersebut juga memiliki efek relaksasi terhadap ileum marmut terisolasi yang dikontraksi oleh asetilkolin dan histamin (Takase, et.al., 1994). ..................
artikel lengkapnya silakhan DOWNLOAD aja ya sob........... 

DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, A.E,Riyanto, S., Sukari, M.A. and Maeyama, K., 2008, The Effects of Compounds Isolated from Aegle marmelos Correa, on Histamine Release from Mast Cells, in 81st Annual meeting of Japanese pharmacological Society, Yokohama., March 17 - 18th2008.
Riyanto, S., 2003, Phytochemical Studies and Bioactivity Tests of Murraya paniculata Jack., Aegle marmelos Correa and Zingiber Amaricans Blume, Dissertasi, University Putra Malaysia.
Takase, H., Yamamoto, K., Hirano, H., Saito, Y. and Yamashita, A., 1994, Pharmacological Profile of Gastric Mucosal Protection by Marmin and Nobiletin from a Traditional Herbal Medicine, Aurantii fructus immaturus, Jpn. J. Pharmacol, 66(1) : 139-147
Yamada, Y., Nakatani, N. and Fuwa, H., 1987, Epoxyaurapten and Marminfrom Juice Oil in Hassaku (Citrus hassaku) and the Spasmolytic Activity of 7-Geranyloxycoumarin-related Compounds, Agric. Biol. Chem.,51(4) : 1105-1110